Luka Batin

2010
07.20

Terlalu indah dilupakan tapi terlalu perih kalo mengenang masa-masa itu.

Mengenang hari demi hari saat besamanya kemarin dan dulu, indah, tak terkira rasa bahagianya. Tapi…
Menjadi sangat perih karena hari-hari itu sudah berlalu dan tidak ada kesempatan lagi untuk membuat kenangan indah lain di hari-hari selanjutnya.

Tidak ada yang lebih menyakitkan hatiku ketika aku merasa tidak dibutuhkan lagi olehnya. Merasa tidak dimiliki olehnya, merasa tidak dipertahankan olehnya. Ada tidaknya aku tidak mempunyai arti apa-apa baginya. Ada ya biasa aja, kalo ga ada pun ga dicari.

Pelan tapi pasti luka itu menimbulkan benci yang semakin lama semakin besar. Kebencian atas sikap diamnya, atas tidak adanya keberanian untuk mengakui kalo dia membutuhkanku. Berlagak sok ga butuh dan pasrah pada keadaan. Padahal sebenernya butuh banget tapi ga berani berontak.

Masih pantaskah dia menjadi pendampingku? Sepertinya harus mulai mencari yang lebih berani mengakui perasaannya sendiri dan bertindak demi berlanjutnya hubungan, bahkan tanpa perlu diminta sekalipun.

Comments Off

Keputusan Sulit..

2010
07.16

Sejak semula aku sudah memutuskan untuk tetap setia mencintainya sampai saat terakhirku. Banyak hal yang sudah kulakukan untuk membuktikannya, walaupun tentu saja tidak sesempurna yang kubayangkan. Dan tentu saja aku tidak munafik kalo aku pun mengharapkan adanya balasan atas semua itu. Tidak banyak yang kuharapkan, aku cuma ingin dia percaya pada janjiku itu dan kuharap dia mau hadir di sisiku, mendampingiku, melihat, mendengar, dan merasakan secara langsung banyak hal yang sudah dan akan kulakukan untuknya.

Aku tahu, sebenarnya dia pun ingin hadir di sisiku. Tapi menjadi sebuah dilema yang tidak ada akhirnya kalau ada orang ke-3 yang menghalanginya. Orang ketiga yang seharusnya bisa mengerti dan memahami, dimana dia seharusnya berada. Dia pun tidak berani menghadapi dilema itu, memilih, memutuskan dan bertindak, atas nama cinta dan kesetiaannya pada janji yang pernah kami berdua ucapkan 6 tahun yang lalu untuk saling setia, saling jujur & terbuka, saling percaya, dan saling mencintai.

Atas nama cinta dan kesetiaan aku hadir mendampinginya saat kesulitan itu mengancam hidupnya, mengikat janji itu 4 tahun lalu.

Tapi sekarang janji tinggalah sebuah janji. Kurasa tidak ada yang perlu kubuktikan lagi. Kejujuran, kesetiaan, keterbukaan, rasa percaya, dan rasa cintaku padanya telah kubuktikan semuanya. Pilihan sudah kuberikan dan aku hanya bisa menunggu keberaniannya untuk membuktikan janji yang diucapkannya bersamaku 6 tahun yang lalu.

Apakah aku harus mengingkari janji yang kuucapkan bersamanya 6 tahun lalu? Apakah aku harus memutuskan ikatan janji yang telah kubuat bersamanya 4 tahun yang lalu? Sebuah keputusan yang sulit diambil..

Naluri mengatakan, “Kenapa harus bingung? Toh ga ada untungnya juga kamu memegang janji itu. Emang dia juga melakukan hal yang sama? Kalau ya, buktinya mana?”

Tapi..

Nurani mengatakan,”Tunggulah, apa yang kamu lakukan tidak akan sia-sia. Tuhan aja tidak pernah ingkar janji.”

Uji Kesetiaan

2010
03.23

Saat “pilihan” itu datang, memilih untuk tetap setia mencintainya sampai akhir hayat adalah hal yang sangat sulit. “Pilihan” itu sangat sempurna, tepat menyerang salah satu sisi hatiku yang selama ini dibiarkan kosong oleh dia yang jauh di sana.

“Dia” sungguh menjadi pilihan sulit, dan untuk beberapa saat aku menikmati momen-momen itu, merasakan sosoknya ada di dekatku, seakan-akan dia yang jauh di sana nyata hadir di hadapanku.

naluri mengatakan itu kesempatan….
tapi….
nurani mengatakan itu pengkhianatan….
dan semua sahabat pun berkata “jangan teruskan”….

bukan “dia” yang saat ini kuinginkan,
bukan “dia” yang saat ini kurindukan,
bukan “dia” yang saat ini kucintai,
bukan “dia” yang saat ini kuharapkan,

tapi dia yang ada nun jauh di sana.

dia yang seharusnya kuinginkan,
dia yang seharusnya kurindukan,
dia yang seharusnya kucintai,
dia yang seharusnya kuharapkan,

dan tidak seharusnya aku mencari-cari sosoknya di dalam “dirinya”

konsekuensinya pasti ada…
entah luka hati, entah kekecewaan, entah amarah, entah kebencian, entahlah…
hanya kata maaf yang bisa terucap antara aku dan dia…

“dia” tetap pada posisinya,
entah luka hati, entah kecewa, entah marah, entah benci, entahlah…
hanya kata maaf yang bisa kusampaikan…

Saat Memberi, Saat Menerima

2009
10.31

Sore hari, Jumat, 30 Oktober 2009, merencanakan untuk pulang dari kantor agak sore. Saat waktu mendekati jam pulang kantor, mendadak ada telpon dari teman di lantai 3, dia minta dibuatkan newsletter untuk dikirimkan sore itu juga. “Yah, alamat nglembur deh,” kataku dalam hati.

Singkat cerita, pekerjaan tambahan itu akhirnya selesai, walaupun belum 100%, sekitar jam 20.30. Dengan santai, walaupun akhirnya pulang agak malam, aku berjalan keluar dari kantor dan menyusuri Jl. Panjang menuju ke halte busway, seperti biasanya. Capek dan ngantuk banget rasanya.

Menjelang perempatan Kedoya Duri Raya terdengar ada seseorang menghampiriku -awalnya kukira penipu yang mo nawarin barang pameran seperti yang pernah 2 kali kutemui – dari arah belakang, “Mas, kalo jalan ke arah Parung ke arah mana ya?” tanya seorang pria bertampang lusuh dan tampak kelelahan.
“Parung Bogor maksudnya?” aku coba memastikan.
“Iya mas, daerah Bogor,” jawabnya kemudian.
“Tinggal lurus aja kalau mau ke Parung. Naik bis aja dulu ke Lebak Bulus, baru dari situ ada angkutan yang ke arah Parung,” kataku menjelaskan.
“Jauh nggak mas jaraknya dari sini ke Lebak Bulus?” dia bertanya lebih lanjut.
“Wah, jauh banget. Mendingan naik bis aja dulu dari sini,” jawabku.
“Ya sudah mas. Terima kasih. Insya Allah saya jalan kaki saja,” katanya mengakhiri percakapan.

Jujur kuakui jawaban yang dia berikan saat itu cukup membuatku terkaget-kaget dan berpikir. “Waduh, ini orang mau jalan kaki sampe Parung. Niat banget. Apa orang lagi prihatin ya? Atau jangan-jangan orang lagi kehabisan ongkos,” dalam hati aku bertanya-tanya. Dia kemudian berjalan mendahului aku. Tidak lama setelah melewati perempatan lampu merah, aku terus memperhatikannya sambil mempelajari gerak-geriknya, karena aku sendiri agak penasaran dan ingin mengetahui apakah memang dia sedang kehabisan ongkos.

Sekitar 20 meter dari lampu aku melihat dia berjalan sambil memegangi pinggangnya dan tampak terengah-engah. Indikasi awal bahwa dia memang kehabisan ongkos dan secara fisik sudah kelelahan. Dan aku tergoda untuk bertaruh, kalau dia berhenti di halte yang tidak jauh dari situ maka aku akan menghampirinya dan menanyakan permasalahannya yang sebenarnya, namun bila tidak maka dia tidak seperti yang aku duga dan akan berlalu begitu saja. Lanjutkan baca »

Kamu Tenang Aja…

2008
11.03

Ini benar-benar terjadi. Tepatnya hari minggu kemarin tanggal 2 November 2008. Melalui kejadian ini aku kembali diingatkan bahwa kalau Tuhan berkata akan memberikan pertolongan maka pertolongan itu tidak akan pernah terlambat, tepat pada waktunya.

Ceritanya kemarin aku mau ke gereja sama ibu. Misa jam 6 sore di gereja pasar minggu. Kebetulan juga tanggal 2 november merupakan hari peringatan arwah orang beriman dan ada niatku untuk mendoakan seorang keluargaku. Kami naik motor dan cuaca memang sudah gelap mau turun hujan. Daripada telat dan kehujanan kami berangkat jam 5 sore. Memang kebiasaanku tidak pernah mau sampai yang namanya terlambat ke gereja.

Lha kok ternyata di jalan malah keduluan hujan. Ya udah terpaksa berteduh dulu di pinggir jalan TB Simatupang. Menit demi menit nunggu, kok ga reda-reda hujannya bahkan cenderung tambah deras. Bisa telat nih, ato malah bisa ga jadi misa dan ga jadi deh ndoain arwah keluargaku itu, kataku dalam hati.
Dalam hati juga ngomel sendiri kenapa nggak bawa jas hujan tadi padahal tau cuacanya dah mendung. Sempat juga bilang sama Tuhan, “Tuhan, aku kan mau datang ke pestaMu, menghadiri undanganMu, dan aku nggak mau telat datangnya. Lagi pula hari ini kan mau ada misa peringatan arwah dan aku mo mendoakan keluargaku. Kalo hujan begini gimana dong. Apa emang aku nggak boleh ndoain keluargaku?”
Eh kok rasanya ada yang menjawab begini,”Kamu tenang aja, kamu nggak akan telat ke gereja.”

Setengah nggak percaya dan tetap menunggu dengan gelisah, bolak balik lihat jam tangan. Dalam hati bertanya-tanya, bener nggak ya suara tadi.
Jam terus bergerak, 17.26….17.35…..17.42….17.45… dan akhirnya jam 17.48 hujan mulai reda. Dalam hati bertanya, apa ini kesempatannya?
Dan akhirnya jam 17.50 kuputuskan jalan lagi walaupun masih gerimis kecil-kecil. Wussss…. ngacir naik motor dan akhirnya jam 17.56 sampe di gereja. Luar biasa, ternyata suara itu benar. Tepat saat lonceng gereja berbunyi aku udah duduk manis di gereja..hehe. Aku nggak lupa berterima kasih pada Tuhan atas kesempatan yang diberikanNya. Dan ketika misa berlangsung, hujan ternyata turun lagi lumayan lebat.

Catatanku, Tuhan sudah menunjukkan bahwa Dia ada dan siap menjawab permohonanku. DIA juga mengajariku untuk bersabar menunggu saatNya tiba, saat yang tepat menurut kehendakNya. Dari peristiwa itu aku juga belajar untuk peka terhadap apapun juga yang memang sudah direncanakanNya.. Amin.
Semoga bermanfaat.

Kesetiaan

2008
06.27

Mencintainya sampai akhir hayat adalah sebuah keputusan. Dia sempurna di mataku sampai saat ini. Dan satu hal penting adalah dia setia. Dengan apa aku membalas kesetiaannya? Tentu dengan kesetiaan yang sama dan menjadi sempurna sama seperti dia sempurna di mataku.

Yang Lumpuh DisembuhkanNya

2008
04.10

Pada Desember 1995 yang lalu saya pulang ke rumah di Jakarta dan bermaksud merayakan Natal bersama keluarga setelah menghabiskan satu semester sekolah di dareah Jawa Tengah. Membayangkan suasana Natal di rumah seperti yang sudah biasa saya rasakan sejak kecil merupakan sesuatu yang menyenangkan setelah 6 bulan berpisah dari keluarga. Maklum baru pertama kali merantau.

Namun maksud hati merayakan misa malam Natal bersama keluarga tapi apa daya bila Tuhan berkata lain. Malam Natal indah bersama keluarga yang saya tunggu-tunggu ternyata tidak bisa saya rasakan karena beberapa jam setelah saya tiba di rumah saya merasakan sakit kepala yang tidak tertahankan. Saya coba menguranginya dengan minum obat dan tidur. Namun ternyata sampai dengan sore hari dan kemudian berganti malam keadaan saya semakin memburuk sehingga pada akhirnya saya tidak bisa ikut ke gereja mengikuti misa malam natal bersama seluruh keluarga.

Sendirian di rumah dalam keadaan sakit membuat saya sedih. Ketika mereka pulang dengan membawa buah tangan pun saya tidak bisa ikut menikmatinya karena rasa pahit yang saya rasakan setiap kali menelan makanan. Ketika semua orang di rumah sudah terlelap tidur saya sendiri tidak dapat memejamkan mata. Tubuh saya terasa sangat panas dan saya terus berkeringat sampai-sampai ibu saya membantu menggantikan baju saya sampai 3 kali. Pada akhirnya saya bisa tidur menjelang dini hari. Namun rupanya rangkaian kejadian malam itu belum selesai. Saat saya ingin buang air kecil, tanpa saya duga, ketika saya akan turun dari tempat tidur, kaki saya tidak sanggup menahan beban tubuh saya. Akhirnya tubuh saya melorot jatuh di samping tempat tidur. Saya kemudian memanggil ayah saya untuk membantu (menggendong) saya ke kamar mandi. Ayah saya belum menyadari kondisi saya sesungguhnya dan menganggap saya ingin bermanja-manja dengannya karena 6 bulan tidak bertemu. Ketika saya kembali ke tempat tidur ayah sepertinya menyadari bahwa ada sesuatu yang tidak beres. Lanjutkan baca »